Bulan april lalu aku membeli Nokia E51. harganya Rp. 2.390.000. Aku mulai mecoba memakainya. spesifikasi awal yang kuinginkan dari handphone tersebut adalah mampu membantuku untu ber-internet.
benar-benar memenuhi keinginan dan seleraku. dipadu dengan kartu IM3 semakin klop. entah internet langsung di HP atau ku sambung dengan laptopku. sama-sama mudah dan enak. pilihannya kalau cuma sekedar baca WAP cukup dengan setingan volume base (Rp. 1/kb), tapi kalau untuk melihat web utuh aku menggunakan time base (Rp. 100/menit). jadi kalau sekedar membaca WAP Detik Portal lebih kurang 15-20 halaman hanya keluar uang lebih kurang Rp.100-150. jadi E51+IM3 klop dah. tidak nyesal aku tambah nomor HP dan sedikit demi sedikit meninggalkan AS yang muahal vouchernya.
Jumat, 13 Juni 2008
Selasa, 10 Juni 2008
Tumor 19 kg, Masuk MURI?
Seorang pasien Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima menderita tumor lebih dari 19 kg. Saking besarnya, beberapa orang dokter menduga tumor tersebut terbesar di Indonesia Timur. ”Kalau saja kita tahu berapa rekor MURI, mungkin tumor ini layak masuk MURI”, cetus seorang tim operasi.
Tumor yang diderita seorang warga Wilamaci-Monta tersebut sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak tiga tahun yang lalu. ”Hanya semenjak setahun terakhir ini pembesarannya sangat cepat”, ujar penderita sebelum di operasi di Rabu (9/8) lalu. Menurutnya, dirinya beserta keluarga sudah berupaya memeriksakan sakitnya, namun dokter belum bisa memastikan kelainan yang dialaminya hingga perutnya membesar seperti sekarang. ”Hasil USG, kita tidak bisa melihat dan memastikan asal kelainannya, demikian juga hasil laboratorium seperti albumin yang mengindikasikan ascites juga masih dalam batas normal”, jelas dr. IGN Aryana, Sp.B sekaligus dokter yang memimpin operasi tersebut. Untuk memastikan asal dan bentuk kelainanan tersebut pihaknya sudah menyarankan pasien ke Mataram guna dilakukan pemeriksaan CT-Scan Abdomen. Namun karena pasien dan keluarganya tidak mempunyai biaya walaupun dengan memakai kartu Askeskin terpaksa menjalani perawatan dengan fasilitas yang ada di RSUD Bima. ”Nah, Untuk memastikan asal kelainannya maka harus dilakukan pembedahan laparatomy eksplorasi”, ujar dokter yang sebagian besar karirnya sebagai dokter umum dihabiskan di daerah konflik Maluku ini.
Operasi pengangkatan sendiri sudah direncanakan senin (7/8) kemarin, namun karena tidak adanya persediaan darah akhirnya operasi tersebut di tunda. Operasi dilaksanakan setelah pasien memperoleh darah yang cukup dari para personel polisi. ”Syukurlah, kami mendapat sumbangan darah dari bapak-bapak polisi yang kebetulan mengunjungi pasien disebelah”, ujar suami penderita yang sehari-hari bekerja sebagai pencari kayu bakar.
Proses operasi yang berlangsung hampir 2 jam tersebut berjalan lancar namun juga penuh ketegangan. Tim sempat menduga akan terjadi perdarahan atau kebocoran cairan yang cukup banyak. ”Karena itu ketika lapisan peritoneum (lapisan dalam perut) kita buka, kita siap-siap dengan suction (penyedot cairan) ternyata cairannya utuh terbungkus di dalam lapisan tumor”, jelas dokter Arya yang mulai berugas sebulan terakhir di RSUD Bima ini.
Setelah memastikan jenis tumor, operasi kemudian dilanjutkan oleh dr. IGN Darma Putra, SP.OG. ”Ternyata kista ovarium dekstra (Tumor indung telur kanan)”, jelas dr. Darma setelah berhasil mengangkat kista tersebut. Dalam proses pengakatan itu dilakukan dengan sangat hati-hati. Beberapa klem dipasang pada akar tumor tersebut untuk menjaga keutuhan tumor dan menghindari kemungkinan terjadinya perdarahan hebat. Setelah dipastikan aman barulah dilakukan pengguntingan dan pengangkatan dari rongga perut. ”Sistem reproduksinya masih bisa berfungsi karena hanya salah satu ovariumnya saja yang dingkat”, jelas dr. Darma sembari mengatakan kalau ini adalah kali ketiga dirinya menangani dan mengangkat tumor ovarium dengan ukuran ”raksasa” seperti ini.
”Walaupun ukurannya sebesar ini, tumor ini tidak mengganggu sistem pencernaan, karena tidak ada perlekatan pada organ intra abdomen (dalam perut) seperti usus, dll”, jelas dokter Arya kembali. ”Sehingga prognosis pasca operasinya baik”, tambah dokter yang telah enam tahun berpangkat Kapten Angkatan Darat ini.
RSUD Bima sendiri dalam menangani operasi pasien tersebut telah membentuk sebuat Tim Operasi yang berjumlah 10 orang Tim ini terdiri dari : dr. IGN Aryana, Sp.B dan dr. IGN Darma Putra, Sp.OG sebagai operator, di bantu dr. Doni R. Bimantara, dr. Rizky A., Amiruddin, dan Erna Yusliana sebagai asisten, sedangkan Haeruddin, I Wayan Sujana dan Busyran sebagai penata anastesi serta Roomulyati sebagai perawat onloop.
Mengomentari keberhasilan operasi tersebut Direktur RSUD Bima, dr. Hj. Tini Wijanari menyampaikan ucapan selamat kepada pasien dan keluarganya dan juga terima kasih kepada seluruh Tim operasi yang dalam tiga bulan terakhir telah melakukan lebih dari 550 operasi terhadap pasien di RSUD Bima. ”Kita bersyukur atas keberhasilan ini, semoga ini dapat menambah motivasi kita untuk terus memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat”, ujarnya. (Firman, SE. Reporter Warta RSUD)
Tumor yang diderita seorang warga Wilamaci-Monta tersebut sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak tiga tahun yang lalu. ”Hanya semenjak setahun terakhir ini pembesarannya sangat cepat”, ujar penderita sebelum di operasi di Rabu (9/8) lalu. Menurutnya, dirinya beserta keluarga sudah berupaya memeriksakan sakitnya, namun dokter belum bisa memastikan kelainan yang dialaminya hingga perutnya membesar seperti sekarang. ”Hasil USG, kita tidak bisa melihat dan memastikan asal kelainannya, demikian juga hasil laboratorium seperti albumin yang mengindikasikan ascites juga masih dalam batas normal”, jelas dr. IGN Aryana, Sp.B sekaligus dokter yang memimpin operasi tersebut. Untuk memastikan asal dan bentuk kelainanan tersebut pihaknya sudah menyarankan pasien ke Mataram guna dilakukan pemeriksaan CT-Scan Abdomen. Namun karena pasien dan keluarganya tidak mempunyai biaya walaupun dengan memakai kartu Askeskin terpaksa menjalani perawatan dengan fasilitas yang ada di RSUD Bima. ”Nah, Untuk memastikan asal kelainannya maka harus dilakukan pembedahan laparatomy eksplorasi”, ujar dokter yang sebagian besar karirnya sebagai dokter umum dihabiskan di daerah konflik Maluku ini.
Operasi pengangkatan sendiri sudah direncanakan senin (7/8) kemarin, namun karena tidak adanya persediaan darah akhirnya operasi tersebut di tunda. Operasi dilaksanakan setelah pasien memperoleh darah yang cukup dari para personel polisi. ”Syukurlah, kami mendapat sumbangan darah dari bapak-bapak polisi yang kebetulan mengunjungi pasien disebelah”, ujar suami penderita yang sehari-hari bekerja sebagai pencari kayu bakar.
Proses operasi yang berlangsung hampir 2 jam tersebut berjalan lancar namun juga penuh ketegangan. Tim sempat menduga akan terjadi perdarahan atau kebocoran cairan yang cukup banyak. ”Karena itu ketika lapisan peritoneum (lapisan dalam perut) kita buka, kita siap-siap dengan suction (penyedot cairan) ternyata cairannya utuh terbungkus di dalam lapisan tumor”, jelas dokter Arya yang mulai berugas sebulan terakhir di RSUD Bima ini.
Setelah memastikan jenis tumor, operasi kemudian dilanjutkan oleh dr. IGN Darma Putra, SP.OG. ”Ternyata kista ovarium dekstra (Tumor indung telur kanan)”, jelas dr. Darma setelah berhasil mengangkat kista tersebut. Dalam proses pengakatan itu dilakukan dengan sangat hati-hati. Beberapa klem dipasang pada akar tumor tersebut untuk menjaga keutuhan tumor dan menghindari kemungkinan terjadinya perdarahan hebat. Setelah dipastikan aman barulah dilakukan pengguntingan dan pengangkatan dari rongga perut. ”Sistem reproduksinya masih bisa berfungsi karena hanya salah satu ovariumnya saja yang dingkat”, jelas dr. Darma sembari mengatakan kalau ini adalah kali ketiga dirinya menangani dan mengangkat tumor ovarium dengan ukuran ”raksasa” seperti ini.
”Walaupun ukurannya sebesar ini, tumor ini tidak mengganggu sistem pencernaan, karena tidak ada perlekatan pada organ intra abdomen (dalam perut) seperti usus, dll”, jelas dokter Arya kembali. ”Sehingga prognosis pasca operasinya baik”, tambah dokter yang telah enam tahun berpangkat Kapten Angkatan Darat ini.
RSUD Bima sendiri dalam menangani operasi pasien tersebut telah membentuk sebuat Tim Operasi yang berjumlah 10 orang Tim ini terdiri dari : dr. IGN Aryana, Sp.B dan dr. IGN Darma Putra, Sp.OG sebagai operator, di bantu dr. Doni R. Bimantara, dr. Rizky A., Amiruddin, dan Erna Yusliana sebagai asisten, sedangkan Haeruddin, I Wayan Sujana dan Busyran sebagai penata anastesi serta Roomulyati sebagai perawat onloop.
Mengomentari keberhasilan operasi tersebut Direktur RSUD Bima, dr. Hj. Tini Wijanari menyampaikan ucapan selamat kepada pasien dan keluarganya dan juga terima kasih kepada seluruh Tim operasi yang dalam tiga bulan terakhir telah melakukan lebih dari 550 operasi terhadap pasien di RSUD Bima. ”Kita bersyukur atas keberhasilan ini, semoga ini dapat menambah motivasi kita untuk terus memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat”, ujarnya. (Firman, SE. Reporter Warta RSUD)
Senin, 09 Juni 2008
BENCANA DAN GERAKAN PALANG MERAH
Hari Rabu (5/4) minggu kemarin, daerah kita Kota Bima dan sekitarnya dilanda Banjir. Begitu tiba-tiba, mengagetkan sekaligus membawa korban, kerugian dan penderitaan. Tidak hanya moril dan materil namun juga jiwa turut menjadi korban. Tidak hanya di Kota Bima yang korban materinya mancapai 256.6 milyar namun juga mengenai sebagian wilayah di Kabupaten Bima seperti di kecamatan Wera dan Monta.
Bencana adalah suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi dan lingkungan; dimana hal tersebut melampaui kemampuan/kapasitas yang dimiliki oleh masyarakat dalam mengatasinya. Bencana dapat berupa Angin kencang, gempa bumi, banjir, tanah longsor, gunung meletus, kebakaran, kecelakaan, konflik, tsunami, wabah penyakit, kekeringan, dll
Dengan sistem yang ada di masyarakat kita saat ini sangat sulit bagi kita untuk mendeteksi datangnya bencana. Kalaupun bisa, hal tersebut membutuhkan teknologi terkini dengan biaya yang tidak sedikit. Pun demikian tidak berarti bencana serta merta dapat di eliminasi dari kehidupan kita. Contohnya saja negara-negara maju yang telah memeiliki sistem deteksi dini bencana tak urung luluh lantak oleh bencana. Demikian halnya didaerah kita, apalagi tidak ada kesiapsiagaan terhadap bencana.
Bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tapi juga menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Termasuk organisasi sosial kemasyarakatan seperti gerakan Palang Merah (PMI)
Palang Merah Indonesia (PMI) adalah lembaga sosial kemanusiaan yang netral dan mandiri, yang didirikan dengan tujuan untuk membantu meringankan penderitaan sesama manusia akibat bencana, baik bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia, tanpa membedakan latar belakang korban yang ditolong. Tujuannya semata - mata hanya untuk mengurangi penderitaan sesama manusia sesuai dengan kebutuhan dan mendahulukan keadaan yang lebih parah.
Organisasi yang berdiri pada Tanggal 17 September 1945 ini menjadi organisasi non pemerintah yang dalam pelaksanaan tugasnya membantu pemerintah di bidang kemanusiaan dan terikat dengan Prinsip – prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, sehingga PMI merupakan lembaga yang independen serta berstatus sebagai Organisasi Masyarakat yang bersifat khusus, karena dibentuk dan memperoleh tugas dari Pemerintah yaitu : Pertama, Tugas – tugas dalam bidang kepalangmerahan yang erat hubungannya dengan Konvensi Jenewa seperti menyebarluaskan dan mengembangkan aplikasi Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Hukum Perikemanusiaan Internasional (HPI) bagi seluruh masyarakat Indonesia. Memberikan perlindungan dan bantuan bagi masyarakat terutama yang terkena bencana, pelayanan sosial dan kesehatan masyarakat, dan pembinaan generasi muda melalui wadah Palang Merah Remaja (PMR), Korps Sukarela (KSR) dan Tenaga Sukarela (TSR). Kedua, Tugas khusus untuk melakukan tugas pelayanan transfusi darah, berupa pengadaan, pengolahan dan penyediaan darah yang tepat bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dalam penanganan bencana (PB), sebenarnya PMI telah mempunyai kebijakan tersendiri, yang mana Manajemen PB dalam perspektif PMI merupakan kegiatan berkesinambungan yang dikelola untuk pengendalian dampak bencana, mengurangi risiko dan mempersiapkan masyarakat untuk menghindari atau mengatasi dampak bencana berikutnya. Pada tahap kesiapsiagaan PMI berperan: Pertama, Merekrut, dan mengembangkan kapasitas staff dan relawan, khususnya SATGANA PMI Cabang dan CBAT (Community Based Action Team) atau SIBAT (Siaga Bantuan Berbasis Masyarakat), agar dapat melaksanakan operasional sebelum, saat, dan sesudah bencana alam dan konflik. Kedua, Mencari dukungan dan persetujuan formal/MoU dengan PMI Daerah, Institusi, lembaga lain di tingkat Kab/Kota, untuk mendapatkan dukungan logistik yang layak untuk operasional bantuan PB di wilayah cabangnya. Sedangkan pada masa bencana pada kegiatan tanggap dadrurat PMI berperan dalam : Pencarian, pertolongan pertama dan evakuasi, Penilaian dan anlisa, Penampungan darurat, Dapur umum, Distribusi bantuan dan pemenuhan kebutuhan standar.
Maka, agar PMI mampu melaksanakan tugas-tugas tersebut diperlukan dukungan dari semua pihak terkait seperti pemerintah dan masyarakat. Demikian halnya yang paling penting bagi PMI sendiri adalah mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh pada kekuatan dan kelemahan organisasi, seperti : Pertama, Kemampuan dan kapasitas pengurus, terutama dalam mengelola dan mengembangkan Sumber daya (SDM dan dana), ini merupakan jantung organisasi. Kedua, kemampuan staf dan relawan. Untuk itu dibutuhkan keterampilan dan profesionalisme melalui rekruitmen pendidikan dan pelatihan Staf/Relawan. Ketiga, Image masyarakat tentang PMI, terutama ditentukan oleh efektivitas dan kualitas pelayanan, transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan organisasi. Sebagai indikator keberhasilan tugas PMI tercermin dari : Image masyarakat yang positif terhadap PMI, Kualitas pelayanan PMI kepada masyarakat yang dirasakan bermanfaat bagi mereka dan Meningkatnya partisipasi masyarakat kepada PMI.
Khusus didaerah kita, seyogyanya segera melakukan konsolidasi organisasi untuk selanjutnya membuat rencana strategis dan program kerja yang riil. Yang paling urgent adalah rekruitmen relawan anggota PMR, KSR/TSR melalui pendidikan dan latihan, pengadaan perlengkapan dapur umum dan pengadaan tenda peleton.
Kesimpulan : Bencana selalu datang dengan tiba-tiba, melahirkan korban dan penderitaan. Bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun juga seluruh elemen masyarakat termasuk PMI. PMI dapat berkembang apabila mendapat dukungan dari semua pihak terkait seperti pemerintah dan masyarakat. Semoga moment bencana ini menjadi titik balik untuk bersama mengoptimalkan peran PMI dalam tugas-tugas kemanusiaan dimasa datang. (Penulis adalah anggota KSR PMI Cabang Bima)
Bencana adalah suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi dan lingkungan; dimana hal tersebut melampaui kemampuan/kapasitas yang dimiliki oleh masyarakat dalam mengatasinya. Bencana dapat berupa Angin kencang, gempa bumi, banjir, tanah longsor, gunung meletus, kebakaran, kecelakaan, konflik, tsunami, wabah penyakit, kekeringan, dll
Dengan sistem yang ada di masyarakat kita saat ini sangat sulit bagi kita untuk mendeteksi datangnya bencana. Kalaupun bisa, hal tersebut membutuhkan teknologi terkini dengan biaya yang tidak sedikit. Pun demikian tidak berarti bencana serta merta dapat di eliminasi dari kehidupan kita. Contohnya saja negara-negara maju yang telah memeiliki sistem deteksi dini bencana tak urung luluh lantak oleh bencana. Demikian halnya didaerah kita, apalagi tidak ada kesiapsiagaan terhadap bencana.
Bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tapi juga menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Termasuk organisasi sosial kemasyarakatan seperti gerakan Palang Merah (PMI)
Palang Merah Indonesia (PMI) adalah lembaga sosial kemanusiaan yang netral dan mandiri, yang didirikan dengan tujuan untuk membantu meringankan penderitaan sesama manusia akibat bencana, baik bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia, tanpa membedakan latar belakang korban yang ditolong. Tujuannya semata - mata hanya untuk mengurangi penderitaan sesama manusia sesuai dengan kebutuhan dan mendahulukan keadaan yang lebih parah.
Organisasi yang berdiri pada Tanggal 17 September 1945 ini menjadi organisasi non pemerintah yang dalam pelaksanaan tugasnya membantu pemerintah di bidang kemanusiaan dan terikat dengan Prinsip – prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, sehingga PMI merupakan lembaga yang independen serta berstatus sebagai Organisasi Masyarakat yang bersifat khusus, karena dibentuk dan memperoleh tugas dari Pemerintah yaitu : Pertama, Tugas – tugas dalam bidang kepalangmerahan yang erat hubungannya dengan Konvensi Jenewa seperti menyebarluaskan dan mengembangkan aplikasi Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Hukum Perikemanusiaan Internasional (HPI) bagi seluruh masyarakat Indonesia. Memberikan perlindungan dan bantuan bagi masyarakat terutama yang terkena bencana, pelayanan sosial dan kesehatan masyarakat, dan pembinaan generasi muda melalui wadah Palang Merah Remaja (PMR), Korps Sukarela (KSR) dan Tenaga Sukarela (TSR). Kedua, Tugas khusus untuk melakukan tugas pelayanan transfusi darah, berupa pengadaan, pengolahan dan penyediaan darah yang tepat bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dalam penanganan bencana (PB), sebenarnya PMI telah mempunyai kebijakan tersendiri, yang mana Manajemen PB dalam perspektif PMI merupakan kegiatan berkesinambungan yang dikelola untuk pengendalian dampak bencana, mengurangi risiko dan mempersiapkan masyarakat untuk menghindari atau mengatasi dampak bencana berikutnya. Pada tahap kesiapsiagaan PMI berperan: Pertama, Merekrut, dan mengembangkan kapasitas staff dan relawan, khususnya SATGANA PMI Cabang dan CBAT (Community Based Action Team) atau SIBAT (Siaga Bantuan Berbasis Masyarakat), agar dapat melaksanakan operasional sebelum, saat, dan sesudah bencana alam dan konflik. Kedua, Mencari dukungan dan persetujuan formal/MoU dengan PMI Daerah, Institusi, lembaga lain di tingkat Kab/Kota, untuk mendapatkan dukungan logistik yang layak untuk operasional bantuan PB di wilayah cabangnya. Sedangkan pada masa bencana pada kegiatan tanggap dadrurat PMI berperan dalam : Pencarian, pertolongan pertama dan evakuasi, Penilaian dan anlisa, Penampungan darurat, Dapur umum, Distribusi bantuan dan pemenuhan kebutuhan standar.
Maka, agar PMI mampu melaksanakan tugas-tugas tersebut diperlukan dukungan dari semua pihak terkait seperti pemerintah dan masyarakat. Demikian halnya yang paling penting bagi PMI sendiri adalah mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh pada kekuatan dan kelemahan organisasi, seperti : Pertama, Kemampuan dan kapasitas pengurus, terutama dalam mengelola dan mengembangkan Sumber daya (SDM dan dana), ini merupakan jantung organisasi. Kedua, kemampuan staf dan relawan. Untuk itu dibutuhkan keterampilan dan profesionalisme melalui rekruitmen pendidikan dan pelatihan Staf/Relawan. Ketiga, Image masyarakat tentang PMI, terutama ditentukan oleh efektivitas dan kualitas pelayanan, transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan organisasi. Sebagai indikator keberhasilan tugas PMI tercermin dari : Image masyarakat yang positif terhadap PMI, Kualitas pelayanan PMI kepada masyarakat yang dirasakan bermanfaat bagi mereka dan Meningkatnya partisipasi masyarakat kepada PMI.
Khusus didaerah kita, seyogyanya segera melakukan konsolidasi organisasi untuk selanjutnya membuat rencana strategis dan program kerja yang riil. Yang paling urgent adalah rekruitmen relawan anggota PMR, KSR/TSR melalui pendidikan dan latihan, pengadaan perlengkapan dapur umum dan pengadaan tenda peleton.
Kesimpulan : Bencana selalu datang dengan tiba-tiba, melahirkan korban dan penderitaan. Bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun juga seluruh elemen masyarakat termasuk PMI. PMI dapat berkembang apabila mendapat dukungan dari semua pihak terkait seperti pemerintah dan masyarakat. Semoga moment bencana ini menjadi titik balik untuk bersama mengoptimalkan peran PMI dalam tugas-tugas kemanusiaan dimasa datang. (Penulis adalah anggota KSR PMI Cabang Bima)
Langganan:
Postingan (Atom)