Minggu, 03 Agustus 2008

Dunia Anak


Mela_Firraz, Dunianya adalah Dunia Anak


Seperti kebanyakan orang tua lainnya, saat bujangan atau setelah menikah dan menunggu kelahiran anak pertama, aku sering bercita-cita. Cita-cita kalau sudah menjadi seorang ayah. Aku bertekad untuk menjadi seorang ayah yang terbaik buat anak-anakku. Ayah yang akan selalu membimbing mereka, menyabari mereka dan lain-lain yang terbaik buat mereka.



Melafirraz di Ule
Aku memulai cita-cita itu dengan menemani dan menyaksikan saat-saat kelahiran Mela, putri pertamaku. Selanjutnya seluruh curahan kasih sayang tercurah untuk Mela. Siang malam bersama istri aku bergantian merawat dan menyayangi Mela. Setiap hari aku buka buku teori tentang mendidik dan merawat anak dari berbagai sumber. Saat aku gendong, buku ditangan selalu kubacakan buat Mela. Tak peduli apakah itu berarti atau tidak buatnya. Aku hanya pernah baca bahwa membacakan buku-buku dengan akan merangsang kecerdasan anak. Meski ia belum mengerti isi buku tersebut.
Demikian pula untuk kesehatannya. Buku tumbuh kembang anak selalu menemani tumbuh kembangnya. ASI menjadi hal penting yang kami perhatikan. Teori tentang kolostrum dan ASI eksklusif benar-benar kami praktekkan. Alhamdulillah. Mungkin karena hal itu seingatku Mela jarang sekali sakit. Seingatku, Mela hanya pernah sakit yang ”agak keras” ketika ia mungkin masuk angin saat pulang dari Surabaya.

Bermimpi Punya Rumah


Firraz, Senang meski baru nmemiliki baruga

Punya rumah adalah mimpi. Mimpi itu terus kami pupuk hingga kini. Hingga kami bisa sedikit demi sedikit mengumpulkan rupiah untuk membangun rumah. Alhamdulillah bertahap kami bisa membeli tanah di kawasan Santi Baru beberapa tahun silam. Lokasi yang kini sangat strategis. Karena terletak ditengah-tengah Kota Bima. Lokasi yang kini harganya sampai 20 juta/are. Alhamdulillah tahun 2004 kmarin kami bisa membeli tanah 3 are. Alhamdulillah juga karena ada pertukaran tanahku kini sertifikat luasnya jadi 3.5 are. Lebih dari cukup untuk membangun sebuah rumah impian.
Impian, karena hingga kini kami belum bisa membangunnya. Hanya sebuah ”baruga” kami buat sekedar tempat duduk-duduk di sana.
Kini, mimpi itu mulai mendekati kenyataan. Bahan-bahan bangunan sudah kami beli sedikit demi sedikit. Kayu untuk kusen sudah di beli januari lalu, semen 120 sak sudah dibeli mei lalu, besi 10’ 71 batang sudah dibeli mei lalu. Batu dan pasir untuk pondasi sudah ditumpuk di lokasi sebelum BBM naik. Bahkan kayu untuk kap sudah dipesan. Hari ini bata nya datang. Semuanya insyaAllah sudah ada. Semoga Ya, Allah dalam waktu dekat kami bisa membangun rumah untuk Mela Firraz.

Mela, Kini Sudah Masuk TK


Mela, Yang kini Sekolah di TKIT Insan kamil


Tidak terasa waktu terus bergulir. Kemarin dia masih bayi. Bahkan sebelumnya masih aku ingat saat dia dilahirkan. Masih merah.
Setelah dua tahun menunggu, akhirnya tahun ketiga Farah Ika Melati lahir. Anak yang cantik kesanku. Banggaku pada Farah Ika Melati tak terkira. Secara bergantian kami merawatnya dengan cinta dan kasih sayang. Siang sama aku, sore sama ibunya. Begitu terus hingga berumur 1 tahun. Farah Ika Melati, benar-benar menyenangkan.
Ketika istriku mengikuti kegiatan kantor selama 2 minggu. Aku sengaja mengambil cuti untuk menemani Farah Ika Melati. Kemana-mana aku temani. Kami hanya berdua dirumah. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan sebagai seorang bapak. Farah Ika Melati yang lucu, menggemaskan, yang hanya tidur berdua sama aku kala ibunya tidak ada. Makan nasi doang sambil menutup mata kala lauk tidak bisa ku buat. Tetap semangat untuk makan.