Mela_Firraz, Dunianya adalah Dunia Anak
Seperti kebanyakan orang tua lainnya, saat bujangan
atau setelah menikah dan menunggu kelahiran anak pertama, aku sering
bercita-cita. Cita-cita kalau sudah menjadi seorang ayah. Aku bertekad untuk
menjadi seorang ayah yang terbaik buat anak-anakku. Ayah yang akan selalu
membimbing mereka, menyabari mereka dan lain-lain yang terbaik buat mereka.
![]() |
| Melafirraz di Ule |
Aku memulai cita-cita itu dengan menemani dan
menyaksikan saat-saat kelahiran Mela, putri pertamaku. Selanjutnya seluruh
curahan kasih sayang tercurah untuk Mela. Siang malam bersama istri aku
bergantian merawat dan menyayangi Mela. Setiap hari aku buka buku teori tentang
mendidik dan merawat anak dari berbagai sumber. Saat aku gendong, buku ditangan
selalu kubacakan buat Mela. Tak peduli apakah itu berarti atau tidak buatnya.
Aku hanya pernah baca bahwa membacakan buku-buku dengan akan merangsang
kecerdasan anak. Meski ia belum mengerti isi buku tersebut.
Demikian pula untuk kesehatannya. Buku tumbuh kembang
anak selalu menemani tumbuh kembangnya. ASI menjadi hal penting yang kami
perhatikan. Teori tentang kolostrum dan ASI eksklusif benar-benar kami
praktekkan. Alhamdulillah. Mungkin karena hal itu seingatku Mela jarang sekali
sakit. Seingatku, Mela hanya pernah sakit yang ”agak keras” ketika ia mungkin
masuk angin saat pulang dari Surabaya.
Saat Mela dan juga kami orangtuanya sedang
senang-senangnya meninkamti kebersamaan, hadirlah Firraz. Saat itu Mela baru
berumur 20 bulan. Alhamdulillah. Kata itu patut kami ucapkan karena kini kami
memiliki sepasang anak laki-laki perempuan. Katanya Firraz beda dengan kami
karena kulitnya agak gelap (dibandingkan dengan Mela) tapi kalau dibandingkan
dengan anak lain tidak juga. Orang mungkin terlanjur berkesan dengan Mela. Kami
khususnya aku sebagai ayahnya tetap dan sangat bangga dengan Firraz. Penerus
generasi Interisti (sebutan untuk penggemar klub bola Inter Milan)
Jika Mela 100% kami rawat berdua, maka Firraz mau
tidak mau harus meminta bantuan orang (pengasuh). Itu karena kami semua
bekerja. Untunya, tempat tinggal kami berada dalam kompleks kantor istriku
bekerja (rumah dinas), sehingga Mela Firraz setiap saat tetap bisa bertemu atau
berkomunikasi dengan ibunya.
Inilah kenyataan dan perbedaanya.
Meski Firraz juga memperoleh ASI ekslusif hingga 6
bulan (Mela hanya dapat ASI hingga ±14 bulan_saat istriku ketahuan hamil Firraz
3 bulan ASI Mela Stop) dan memperoleh ASI hingga utuh 24 bulan. Firraz ternyata
lebih sering terkena flu pilek. Bahkan ketika pulang dari Surabaya saat usianya
belum genap 3 bulan Firraz sampai kami kira akan meninggal. Banyak lendir
menyumbat hidung-jalan napasnya sehingga semalaman sesak dan tidak bisa tidur.
Selama tahun pertama, beberapa kali Firraz harus kami konsulkan ke dokter
karena keluhan yang sama. Untunglah setiap ada keluhan seperti itu disamping
mendapat obat pengencer dahak, kami juga memberikan fisioterapi (memberikan
panas/hangat) agar lendirnya menjadi lepas dan encer.
Dunia Mela Firraz adalah Dunia Anak.
Sering aku dengar atau baca kalau anak bukanlah
miniatur orang dewasa. Anak bukanlah manusia mini. Anak tetap seorang anak.
Anak juga memiliki dunia sendiri sendiri. Itulah kenyataannya ketika aku
mengamati Mela-Firraz. Mela akan dengan perkasa ”merebut” ibunya jika ibu
menggendong/menyusui Firraz. Lama. Lama waktu bagi Mela untuk menerima Firraz.
Ini mungkin yang disebut sibling rivalving alias cemburu. Lepas Firraz usia 6
bulan, mulailah Mela menerima Firraz. Mela yang sendirian akhirnya jadi punya teman.
Karena seorang Firraz, adiknya, sudah mulai merespon canda Mela. Yah, akhirnya
mereka jadi teman yang kompak. Meski sana-sini masih juga rebutan. Mulai dari
rebutan tidur sama ibu, kuda-kudaan sama ayah, rebutan duduk depan motor atau
rebutan mainan. Mela yang suka warna biru, Firraz yang suka warna Oranye. Mela
yang suka kuah sayur, Firraz yang suka sayurnya. Mela yang suka kuning telur
sedang Firraz yang suka putih telur. Mela yang suka es cream, Firraz lebih
meilih es kelapa atau es campur.Mela yang suka menggambar Firraz yang lebih
senang dengan tontonan robotnya. Dan lain-lain, banyak lagi.
Dunia Mela Firraz adalah dunia anak.
Seperti kebanyakan anak lainnya, Mela Firraz juga
tidak lepas dari nangis dan istilah nakal. Inilah kenyataan dunia anak. Inilah
yang berbeda dengan teori dan ajaran-ajaran yang telah kuhafal sebelumnya. Aku
yang berjanji sedapat mungkin tidak akan memarahi mereka, bagaimana mungkin ?
Dilarang ini itu untuk kebaikannya dan sebagainya mau tidak mau terkadang
bahkan sering membuatku berteriak atau tanganku menjewernya. Tidak kapok. Tetap
nakal.
Itulah dunia anak. Dunia yang menurutku tidak bisa
ukurannya teori-teori yang kupelajari. Dunia anak, memang dunianya sendiri.
Dunia Anak, berbeda dengan dunia kita.
Hikmah dari Mela Firraz lah yang mengajarkanku bahwa
apa yang disampaikan orangtua hakekatnya adalah untuk kebaikan seorang anak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar